Definisi Penglaris Di Dunia Usaha, Dan Tradisi Menggunakan Jimat

Definisi Penglaris Di Dunia Usaha, Dan Tradisi Menggunakan Jimat – Kata penglaris, berasal dari kata laris yang artinya cepat laku (tentang barang jualan), sehingga ada dua pengertian tentang penglaris. Pertama, mantera atau jimat untuk membuat laris. Dan kedua, barang dagangan yang dijual murah

agar yang lain dapat laku (biasanya penjualan pertama). Di dunia ekonomi Jawa juga berarti sebagai usaha mencari keuntungan. Namun, dalam meraih keuntungan tidak hanya didasarkan pada manajemen bisnis semata, melainkan juga tidak sedikit yang dilandasi dengan ritual mistik kejawen. Menurut prinsip ekonomi Jawa, untuk meraih kabegjan, tidak hanya dicapai dengan menggunakan

sistem pasar semata. Orang Jawa mencoba menerapkan manajemen batin yang secara tak langsung akan membuat roda ekonomi lancar.

BICARA tentang jual beli, tentunya setiap orang ingin . Tak jarang, mereka yang ingin untung lebih memilih jalan yang praktis. Salah satunya dengan melakukan pesugihan, yang mana mereka membuat perjanjian dengan setan.

Tentunya cara haram demi itu dilarang dalam Islam. Allah memerintahkan umat Islam untuk mencari rezeki yang halal. Wakil Ketua Majelis Dakwah dan Pendidikan Islam (Madani) Ustadz Ainul Yaqin mengatakan, Sesungguhnya karunia Allah SWT itu luas, dan Rizki Allah itu tak pernah bisa kita hitung dengan kemampuan matematis

Rasulullah SAW, bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang mengonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya nabi Daud ‘alaihissalam dahulu senantiasa makan dari jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari, Kitab al-Buyu’, Bab Kasbir Rojuli wa ‘Amalihi Biyadihi II/730 no.2072).

Dan di dalam riwayat lain, Nabi SAW juga bersabda:

ما كسب الرجل كسباً أطيب من عمل يده، وما أنفق الرجل على نفسه وأهله وولده وخادمه فهو صدقة

“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan ia dihitung sebagai shodaqoh.” (HR. Ibnu Majah di dalam As-Sunan, Kitab At-Tijaroot Bab Al-Hatstsu ‘Ala Al-Makasibi, no.2129. al-Kanani berkata, ‘Sanadnya Hasan’, Lihat Mishbah Az-Zujajah III/5).

Dalam tradisi mistik kejawen, terutama mistik budi pekerti luhur, selalu dijadikan sebagai acuan ekonomi Jawa. Orang-orang Jawa menggunakan prinsip-prinsip ekonomi: wani tombok, cucuk, pekoleh, ngirit, guthuk, lumayan, dan sejenisnya. Intisari prinsip adalah pada titik kesederhanaan dan kejujuran batin.

Itulah sebabnya, mereka tidak mungkin lagi menerapkan budaya boros, tanpa penting, mubra-mubra, dan sebagainya. Budaya semacam ini hanya akan membuat roda ekonomi tersendat-tersendat. Bahkan, mereka yang tercebur ke

Dunia ekonomi terakhir ini, dipercaya akan menjadi mangsa Bathara Kala ataupun Buto Ijo. Dunia ekonomi, memang kadang-kadang berbau sakral, tak sedikit para pelaku ekonomi yang melakukan mistik kejawen dalam rangka mencari pelarisan

(agar dagangan laris terjual) dan golek pesugihan (mencari kekayaan). Dua tradisi ini ditempuh melalui ritual-ritual mistik kejawen yang khusyuk. Itulah sebabnya, mereka senang mendatangi tempat-tempat keramat yang dianggap memiliki tuah. Beberapa tempat yang sering didatangi pelaku ekonomi Jawa antara lain di Gunung Kemukus kabupaten Sragen, Gunung Srandhil di kabupaten Cilacap,

Gunung Kawu di Malang, Makam Sewu, Parangtritis dan sebagainya. Tempat- tempat tersebut dipandang akan memberi tuah bagi kekayaan seseorang. Ditempat-tempat yang keramat tersebut, biasanya terdapat makam leluhur yang pantas dijadikan perantara agar dirinya kaya atau ekonominya lancar. Yang dilakukan ditempat itu adalah berdo’a, nyekar, dan bersemedi agar diberi kemudahan melaksanakan ekonomi.

Di tempat-tempat lain, tradisi mistik kejawen juga dilakukan untuk memperoleh kebegjan (keuntungan). Di Bulus Jimbun misalnya, oleh juru kunci selalu dipesankan agar usaha ekonomi yang dilakukan berhasil, pemohon harus menjauhkan diri dari penipuan. Pelaku ekonomi harus menjaga kualitas barang, ketika dagangannya laris. Sedangkan di Jaran Penoleh, juga diwasiatkan agar dalam melakukan ekonomi senantiasa melihat ke kanan dan ke kiri (menoleh kanan kiri). Artinya, selalu mempelajari diri, mengapa dikanan

kirinya dapat berusaha dan berhasil. Pendek kata, golek pelarisan dalam masyarakat mistik memang fenomena yang unik. Mereka mencari keheningan dan ketenangan batin agar ada koreksi diri dan refleksi untuk masa depan usaha ekonominya. Bahkan, seringkali, mereka juga menggunakan jimat (benda keramat) untuk mendapatkan kekayaan. Tidak sedikit, para pedagang di pasar menggunakan jimat agar dagangannya laris. Jimat tersebut berasal dari tempat keramat, antara lain berupa bunga kenanga, batu akik, keris kecil dan lain-lain yang diletakkan dibawah barang dagangannya agar menarik pembeli.

Itulah Definisi Penglaris Di Dunia Usaha , semoga Definisi Penglaris Di Dunia Usaha ini bermanfaat untuk Anda.

Jika anda mengalami kesulitan dalam berdagang, seperti dagangan sepi, dagangan di guna-guna orang, pendapatan semakin hari semakin menurun, maka silahkan konsultasikan dengan Ki Joko Sableng di nomer ini 0816975404. Ki Joko selaku master pelarisan dagang akan membantu anda sampai dagangan anda laris dengan cara yang halal. Langsung saja klik whatsapp otomatis dibawah ini: